Pages

Jumat, 23 September 2011

Batas Kesabaran : Adakah???

    Saya pernah mendengar keluh kesah dari seorang jemaah. Dia sudah berusia sekitar 63 tahun. Menderita sakit sudah lama. Dia bertanya, "Saya, kan, sudah sabar sekian lama, selama saya sakit. Cuma, kok, tidak juga segera sembuh. Sampai kapan saya harus bersabar?" Tentu, banyak di antara kita yang juga sering memiliki keluhan seperti itu, walaupun pasti penyebabnya sangat beraneka ragam.
    Sebagaimana sudah dikemukakan, kesabaran adalah salah satu harta terpendam bagi seorang hamba Allah, sebagai bekal menempuh keseluruhan perjalanan hidup. Kesabaran diberikan Allah, terkait dengan coba'an yang juga selalu hadir dalam setiap kehidupan manusia. Adanya rasa nikmat adalah karena adanya kesulitan, cobaan, dan kesempitan sehingga kesabaran selalu dibutuhkan dan harus selalu ada pada diri seseorang, walau tentu saja kadarnya selalu menaik dan menurun, sesuai dengan kondisi yang dihadapi.
    Para sahabat terkemuka Nabi, menghadapi kadar cobaan dan musibah yang "super berat" jika dibandingkan dengan orang muslim pada umumnya. Sayidina Abu Bakar misalnya, sejak ia mempercayai Rasulullah, ia di asingkan oleh keluarganya, dicerca, dan dihina oleh hampir seluruh penduduk Mekkah. Ia juga menjadi tameng hidup Rasulullah, sejak di Mekkah, periode awal sebelum hijrah, sampai wafatnya Rasulullah. Tubuhnya penuh dengan bekas luka karena membela Rasulullah. Hartanya selalu habis untuk da'wah Rasulullah.

    Setelah Rasulullah wafat, tampuk kekhalifahan diberikan kepada Abu Bakar karena memang ia yang paling tangguh dengan kesabarannya. Perang muncul dimana-mana akibat pemberontakan orang-orang munafik. Dengan katabahan dan kesabarannya, Islam periode awal berhasil dipertahankan dan dikembangkan.
    Sayidina Umar bin Khattab, harus rela meninggalkan berbagai gelar kehormatan dan kedudukan tinggi pada kaumnya karena mengikuti Islam. Dengan ketegasannya, banyak orang yang tidak suka. Sampai akhirnya, ia harus wafat terbunuh. Sayidina Utsman demikian juga, meninggal karena dikeroyok oleh para pemuda yang terhasut fitnah.
Tentang ketiga sahabat ini, tercatat dalam hadis berikut :
"Diriwayatkan oleh Abu Musa Al-Asy'ari r.a. katanya, "Ketika Rasulullah saw. sedang menggariskan tongkatnya di atas tanah yang berair di dalam sebuah kebun atau taman di Medinah, datang seseorang ingin menemui Rasulullah saw. Maka, Baginda saw. berkata, 'Bukakanlah pintu dan sampaikan kepadanya kabar gembira tentang surga.' Aku terus pergi dan mendapati orang itu adalah Abu Bakar. Aku mempersilahkan beliau masuk dan menyampaikan pesan Rasulullah saw. Kemudian , datang seorang lagi meminta supaya dibukakan pintu. Rasulullah saw bersabda. 'Bukakanlah pintu dan sampaikan kabar gembira kepadanya mengenai surga.' Aku pergi untuk membuka pintu dan mendapati orang itu adalah Umar, lalu aku mempersilahkannya masuk dan menyampaikan pesan Rasulullah saw. Kemudian, datang lagi seorang meminta supaya dibukakan pintu, lalu Rasulullah saw duduk dan bersabda, 'Bukakanlah pintu dan sampaikanlah kabar gembira tentang surga atas musibah yang akan menimpanya,' Aku pergi menemui orang itu, ternyata beliau adalah Utsman bin Affan. Maka, aku bukakan pintu untuknya dan sampaikan pesan Rasulullah saw. Beliau berkata, 'Ya Allah, berilah aku kesabaran. Hanya Allah-lah tempat meminta pertolongan.'" (HR Muttafaqun Alaih)
     Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa kesabaran itu tidak mengenal batas, atau tidak ada batasnya. Batasnya adalah setelah cobaan atau kesulitan yang menimpa dihilangkan oleh Allah, dan sebagai balasan atas kesabarannya, kemudian digantikan dengan kemudahan, kelapangan, dan kenikmatan. Tentang kesabaran yang tidak ada batasnya ini, Allah berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung." (QS. Ali-Imran:200)
    Jadi, batas kesabaran adalah sampai datangnya keberuntungan dan kemenangan dari Allah. Dalam ayat tersebut, dinyatakan bahwa hamba yang beriman diperintahkan untuk selalu bersikap sabar. Namun, sabar pasif tidaklah berarti. Maka, sambungannya adalah, "...dan kuatkanlah kesabaranmu.....", yakni sabar secara optimal sehingga suatu cobaan dapat terlampaui.
    Pada suatu sisi, selain kita disuruh untuk selalu berada dalam kesabaran dan terus bertahan dalam kesabaran itu, Allah juga menyatakan, "....dan tetaplah bersiap siaga...." Dalam arti, kesabaran itu tidaklah pasif, sekedar menantikan datangnya karunia Allah. Kesabaran harus selalu diiringi dengan segala ikhtiar, mencari cara untuk keluar dari coba'an tersebut. "Siap siaga" juga bermakna bahwa setelah seorang beriman selesai dengan suatu jenis coba'an, bukan berarti badai telah berlalu. Seorang hamba Allah harus menyadari bahwa kehidupan dunia memang penuh dengan coba'an. Oleh karena itu, setelah suatu coba'an selesai, ia menyadari bahwa Allah meningkatkan kualitas keimanan dan kehambaannya sehingga dia mempersiapkan diri jika sewaktu-waktu Allah memberikan coba'an lain.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar